Orang Tua Pendaki Hilang di Jalur Mongkrang Ungkap Kronologi Terakhir Komunikasi dengan Anak

Orang tua Yazid Ahmad Firdaus (Daus), pendaki yang hilang di jalur Mongkrang Gunung Lawu, mengungkap kronologi terakhir komunikasi sebelum keberangkatan

chat_bubble_outline 0
Sapto Mulyono ayah dari Yazid Ahmad Firdaus pendaki hilang di Mongkrang

KARANGANYAR, HARIANKOTA.COM – Orang tua pendaki yang dilaporkan hilang di jalur pendakian Mongkrang, Gunung Lawu, mengungkapkan kronologi terakhir komunikasi dengan putranya sebelum berangkat mendaki. Korban diketahui bernama Yazid Ahmad Firdaus, yang akrab disapa Daus, anak ketiga dari pasangan Sapto Mulyono dan Rustiningsih.

Sapto Mulyono mengatakan, putranya sempat berpamitan secara langsung sebelum berangkat menuju Mongkrang bersama dua rekannya, Salman dan Sukma.

“Anak kami pamit, bilang mau ke Mongkrang. Berangkat dari rumah sekitar jam 08.00 sampai 08.30 pagi naik mobilnya temannya,” ujar Sapto saat ditemui di lokasi pencarian, Selasa (20/1/2026).

Menurut Sapto, rombongan berangkat pada Sabtu malam dan tiba di area parkiran bawah Mongkrang sekitar pukul 03.00 WIB. Pendakian kemudian dilanjutkan pada Minggu pagi. Keluarga baru mulai merasa khawatir ketika menerima pesan singkat dari rekan korban pada Minggu dini hari.

“Jam 03.30 itu Salman chat ke adiknya, menanyakan Daus sudah sampai rumah atau belum. Kami langsung kaget, karena berangkatnya kan bareng,” jelasnya.

Kekhawatiran keluarga semakin bertambah setelah pada Minggu petang mereka mendapat kabar dari tim relawan terkait adanya pencarian di jalur pendakian. Usai Salat Isya, orang tua korban langsung berangkat ke lokasi.

Sapto menyebut, putranya bukan pendaki pemula. Daus tercatat sudah lebih dari lima kali melakukan aktivitas trail run di kawasan Mongkrang dan Gunung Lawu.

“Sudah sering ke sini, trail run. Bahkan dua minggu sebelumnya dia naik turun sendiri dua kali,” ungkapnya.

Namun demikian, sejak berpamitan, keluarga tidak menerima kabar apa pun dari korban. Daus diketahui jarang berkomunikasi melalui pesan singkat kecuali dalam kondisi mendesak.

“Tidak ada WhatsApp atau kabar apa pun. Jam tangan Garmin miliknya juga tidak bisa dilacak, sinyal GPS terakhir tidak terdeteksi,” katanya.

Rustiningsih menambahkan, kondisi kesehatan putranya sangat baik sebelum berangkat. Daus rutin berolahraga, mulai dari lari, berenang, hingga latihan di pusat kebugaran.

“Tidak ada riwayat sakit, fisiknya bugar,” ujarnya.

Memasuki hari kedua pencarian, keluarga berharap putranya dapat segera ditemukan dalam kondisi selamat. Mereka juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang terlibat dalam upaya pencarian.

“Kami sangat berterima kasih kepada semua tim, baik dari pemerintah daerah, dinas terkait, Basarnas, hingga relawan yang jumlahnya ratusan. Kami hanya berharap yang terbaik untuk anak kami,” tutup Sapto.

Tidak ada komentar

Silakan Masuk atau Daftar untuk mengirim komentar.

Berita Terbaru Lainnya