Telepon di Malam Terakhir Menjadi Suara Terakhir yang Didengar Istri Pemilik L300 sebelum Suaminya Ditemukan Tewas

Istri pemilik L300 mengingat telepon yang dijawab suaminya pada malam terakhir sebelum ia ditemukan tewas, meninggalkan duka mendalam bagi keluarga

chat_bubble_outline 0
7 pelaku pencurian dan pembunuhan pemilik L300 saat dihadirkan di konfrensi pers di Mapolres Karanganyar (Foto: HARIANKOTA)

KARANGANYAR, HARIANKOTA. COM – Suasana memilukan tampak di halaman Mapolres Karanganyar saat polisi merilis pengungkapan kasus kematian Farid Akhyar.

Jauh dari kerumunan awak media, istri korban, Miana, berdiri mematung di sudut halaman. Wajahnya pucat, matanya sembab, seakan takut mendekat ke tempat di mana kisah tragis suaminya dijelaskan.

Ia memilih menjauh dari sorotan kamera. Dari kejauhan, terlihat sesekali ia menyeka air mata sambil menggenggam erat jilbabnya. Setiap kata yang keluar dari mulut petugas polisi seolah kembali membuka luka yang baru saja menganga.

“Terima kasih… saya sangat berterima kasih pada Polres Karanganyar dan Polsek Gondangrejo,” ucap Miana perlahan ketika akhirnya mau didekati wartawan. “Mereka membantu sejak suami saya hilang sampai kasus ini terungkap, “imbuhnya.

Malam terakhir Farid masih terus menghantui benaknya. Ia baru pulang dari rumah sakit dan mendapati Farid tertidur di ruang tamu.

Ponsel suaminya tergeletak di sisi tubuhnya. Tidak ada kejanggalan. Tidak ada firasat buruk. Hanya kelelahan yang ternyata menjadi perjumpaan terakhir.

Keesokan paginya, Farid pamit bekerja. Ia menyebut hendak ke Solo untuk sebuah orderan angkut. Putra mereka menjadi saksi keberangkatan itu sekitar pukul 09.00 pada Kamis, 30 Oktober 2025.

Kecemasan menjerat keluarga. Miana akhirnya melapor ke Polsek Gondangrejo pada Minggu pagi karena suaminya tak juga memberi kabar.

Namun justru menjelang waktu zuhur, Babinsa memberikan informasi adanya penemuan jasad tanpa identitas. Kabar itu menghantam Miana seperti petir.

“Saya waktu itu cuma bisa berdoa semoga bukan suami saya… tapi ternyata memang dia,” ujarnya sambil menunduk, menahan isak.

Yang paling menusuk hatinya adalah percakapan telepon yang tanpa sengaja ia dengarkan malam sebelum Farid hilang.

Biasanya ia tak pernah memperhatikan, namun malam itu dorongan aneh membuatnya mendengarkan dengan saksama.

“Suara itu masih terngiang. Saya enggak tahu kalau itu percakapan terakhir,” ucapnya parau.

Dalam konferensi pers itu, Miana meminta agar para pelaku dijatuhi hukuman paling berat. “Jangan dikasih ampun. Mereka sudah menghancurkan keluarga saya,” tegasnya dengan mata berkaca-kaca.

Setelah acara rilis selesai, Miana kembali melangkah perlahan ke sudut halaman—tempat ia berdiri sejak awal. Jauh dari kerumunan, tetapi paling dekat dengan rasa kehilangan yang tak akan hilang seumur hidup.***

Tidak ada komentar

Silakan Masuk atau Daftar untuk mengirim komentar.

Berita Terbaru Lainnya