KARANGANYAR, HARIANKOTA.COM – Penetapan Presiden ke-2 Republik Indonesia, Soeharto, sebagai Pahlawan Nasional oleh Presiden Prabowo Subianto membawa suasana haru di rumah mantan Bupati Karanganyar, Rina Iriani Sri Ratnaningsih.
Suara Rina bergetar saat mengenang perjuangan panjang yang ia jalani lebih dari sepuluh tahun demi melihat hari ini tiba.
“Saya menangis saat mendengarnya. Perjuangan ini tidak sebentar, tapi akhirnya Allah kabulkan. Pak Harto resmi diakui negara sebagai Pahlawan Nasional,” tutur Rina dengan mata berkaca-kaca, Selasa (11/11/2025).
Rina menceritakan bahwa upaya untuk memperjuangkan gelar pahlawan bagi Soeharto telah dimulainya sejak ia menjabat Bupati Karanganyar 2003–2013.
Ia menggandeng sejumlah LSM dari Jakarta dan Semarang untuk menyusun dokumen pengusulan, mengadakan diskusi publik, hingga melakukan pendekatan ke berbagai lembaga negara.
“Banyak yang ragu waktu itu. Tapi saya percaya, sejarah akan memberi tempat yang adil bagi Pak Harto,” ungkapnya.
Menurutnya, jalan yang ditempuh tidak selalu mudah. Kritik dan cibiran sempat datang dari pihak yang menilai langkah tersebut sensitif. Namun keyakinannya tak pernah pudar.
Momen pengumuman gelar Pahlawan Nasional bagi Soeharto terasa semakin istimewa bagi Rina karena bertepatan dengan Hari Pahlawan dan Hari Jadi Kabupaten Karanganyar.
“Ini seperti hadiah dobel bagi kami. Di saat bangsa mengenang jasa para pahlawan, Karanganyar juga berulang tahun, dan kabar tentang Pak Harto datang. Rasanya luar biasa haru,” kata Rina penuh syukur.
Rina menjelaskan, masyarakat Karanganyar memiliki kedekatan batin dengan keluarga besar Soeharto. Di wilayah inilah terdapat Astana Giribangun, tempat peristirahatan keluarga Cendana.
Kedekatan itu, menurutnya, membuat kabar penghargaan ini dirasakan begitu personal oleh warga.
“Karanganyar bukan sekadar lokasi makam keluarga beliau. Ini bagian dari perjalanan spiritual Pak Harto dan keluarga. Kami merasa punya ikatan emosional yang kuat,” jelasnya.
Rina masih mengingat jelas beberapa momen bersama Soeharto, terutama ketika beliau berkunjung ke Astana Giribangun.
Salah satu kenangan yang tak terlupakan adalah saat Soeharto memastikan semua anggota rombongan dan staf sudah makan sebelum acara dimulai.
“Beliau begitu perhatian. Hal-hal kecil seperti itu menunjukkan betapa manusiawinya beliau,” kenang Rina.Ia juga teringat momen terakhir saat menjenguk Soeharto di rumah sakit. Meski dalam kondisi lemah, Soeharto masih mampu tersenyum dan mengenalinya.
“Beliau menatap saya dan tersenyum. Itu membuat saya menangis. Sosoknya tetap hangat, bahkan di ujung hayat,” ucapnya lirih.
Kini, setelah perjuangannya membuahkan hasil, Rina berharap generasi muda tidak hanya mengenal Soeharto dari sisi politik, tetapi juga dari nilai-nilai keteladanan yang ia wariskan.
“Pak Harto itu pekerja keras, disiplin, dan punya tanggung jawab besar terhadap bangsa. Beliau layak disebut pahlawan bukan karena jabatan, tapi karena dedikasi dan pengabdiannya,” tegasnya.
Rina menambahkan, pengakuan negara ini seharusnya menjadi inspirasi bagi para pemimpin masa kini.
“Pemimpin sejati adalah mereka yang peduli pada rakyatnya. Dan Pak Harto sudah memberi contoh nyata,” tutupnya dengan senyum haru.***


Silakan Masuk atau Daftar untuk mengirim komentar.