Hindari 5 Kesalahan Fatal Ini Saat Mendaki Gunung Lawu, Bisa Berujung Petaka

Pantangan mendaki Gunung Lawu penuh misteri: dilarang pakai baju hijau, jumlah ganjil, hingga larangan berkata “capek”. Abaikan bisa berujung celaka atau pengalaman gaib

chat_bubble_outline 0
Gunung Lawu Terbakar
Gunung Lawu

KARANGANYAR, HARIANKOTA.COM – Gunung Lawu bukan sekadar destinasi favorit para pendaki. Di balik pesonanya yang memukau, gunung ini menyimpan berlapis-lapis misteri yang dipercaya oleh masyarakat sekitar sebagai bagian tak terpisahkan dari alam gaib yang menjaga kawasan tersebut.

Di kalangan warga lereng Lawu, mendaki bukan hanya soal fisik dan perlengkapan. Ada etika tak tertulis yang diyakini bisa menentukan selamat atau tidaknya seseorang dalam perjalanan menuju puncak.

Salah satu warga yang dianggap paham tentang selak beluk Gunung Lawu, Joko Sunarto atau akrab disapa Mbah Po, mengisahkan berbagai pengalaman aneh yang ia dengar—dan bahkan ia alami sendiri. Salah satu larangan paling utama adalah menjaga ucapan selama mendaki. Kata-kata seperti “capek” atau “dingin” sebaiknya dihindari.

“Begitu kita mengeluh, bisa tiba-tiba badan lemas atau cuaca berubah drastis. Gunung ini peka dengan suara dan perasaan,” ujarnya.

Lebih jauh, ia menyebut tentang keberadaan Pasar Gaib—sebuah lokasi yang tidak kasat mata, namun konon akan terdengar seperti pasar sungguhan: riuh, ramai, dan seolah penuh aktivitas. Namun, tempat ini tak bisa dilihat semua orang.

“Kalau mendengar suara seperti itu dan ada yang bertanya dalam bahasa Jawa, ‘arep tuku apa mas?’, buang saja uang receh dan petik daun di sekitar situ. Itu tandanya Anda sedang di pasar gaib. Jangan abaikan, pura-pura saja belanja,” tuturnya dengan serius.

Kisah mistis lain muncul dalam bentuk kupu-kupu misterius. Bukan sembarang serangga, makhluk ini dipercaya sebagai utusan alam. Warnanya hitam legam dengan bintik biru terang di kedua sayap. Penampakan kupu-kupu ini disebut sebagai tanda restu dari penjaga Gunung Lawu.

“Kalau melihatnya, itu artinya Anda diterima di wilayah ini. Jangan diganggu, apalagi dibunuh,” tambahnya.

Ada pula pantangan-pantangan yang masih dijunjung tinggi hingga kini: jangan mengenakan pakaian hijau daun, serta hindari jumlah pendaki ganjil dalam satu rombongan. Kedua larangan ini disebut kerap berujung pada peristiwa aneh, bahkan kecelakaan.

Dan jika kabut dingin datang bersamaan dengan suara bergemuruh dari atas gunung, pertanda itu tak boleh diabaikan.

“Segera berhenti. Kalau bisa, tiarap saja. Jangan sekali-kali melanjutkan perjalanan ke puncak dalam kondisi seperti itu,” katanya memperingatkan.

Gunung Lawu memang menyimpan keindahan luar biasa, namun juga dijaga oleh kekuatan yang tak kasat mata. Pendaki yang datang, disarankan tak hanya membawa logistik dan semangat, tapi juga rasa hormat dan kewaspadaan terhadap alam yang sedang mereka jejaki.***

Tidak ada komentar

Silakan Masuk atau Daftar untuk mengirim komentar.

Berita Terbaru Lainnya