Watu Amben, Konon Pernah Jadi Tempat Pasujudan Wali di Blora

21 Maret 2024, 20:10 WIB

BLORA, HARIANKOTA.COM – Sebuah batu hitam berukuran besar dengan panjang lebih kurang 10 meter menjadi daya tarik pengunjung. Bentuk atasnya datar menyerupai amben (tempat istirahat) pada zaman dahulu menarik .

Dilansir dari laman resmi Pemkab Blora, dahulu di Watu Amben, terlihat ada seperti jejak telapak tangan dan kaki, karena tempat itu juga dipercaya sebagai lokasi pasujudan wali. Jejak telapak itu dipercaya merupakan telapak para Wali.

Sayangnya jejak telapak itu kini tidak terlihat lagi. Seiring waktu menghilang karena tergerus panas dan air hujan sehingga bentuknya memudar.

Masyarakat desa Waru, Kecamatan Jepon Kabupaten Blora menyebutnya Watu Amben (batu mirip tempat tidur). Konon berdasarkan cerita turun temurun Watu Amben dipercaya sebagai lokasi cikal bakal (awal) adanya Desa Waru.

Lokasinya berada di tengah permukiman warga, di bawah pohon beringin, atau tepatnya, berada di depan basecamp menuju puncak gunung Mundri.

“Watu Amben ini sudah ada sejak lama. Dipercaya sebagai cikal bakal Desa Waru. Dikenal sebagai tempatnya Mbah Tuan,” kata Soleman, mantan Sekretaris Desa Waru.

Sesuai tradisi masyarakat Jawa khususnya, setiap bulan Selo (Jawa) hari Jumat Wage, di lokasi Watu Amben diselenggarakan sedekah bucu. Berupa kenduri (selamatan) bersama dengan tumpeng nasi bucu. Tujuannya memohon kepada Tuhan, agar diberi keselamatan dan kemudahan rezeki.

“Setiap bulan Selo (Jawa) hari Jumat Wage, di lokasi Watu Amben diselenggarakan sedekah bucu oleh warga masyarakat. Ini tradisi warga. Sedekah bucu ini berbeda dengan sedekah bumi. Kalau sedekah bumi dipusatkan di sendang Keputren,” terang dia.

Dijelaskan juga lokasi Watu Amben kerapkali disambangi orang yang memiliki maksud tertentu. Setelah terpenuhi kemudian menggelar hajat setelah permintaan (secara ritual) terlaksana.

Sebelumnya dijadikan tempat wisata di lokasi Watu Amben juga dikenal dengan mistisnya. Tidak semua orang berani untuk datang ke lokasi tersebut. Kadangkala di waktu tertentu terdengar suara seperti ringkik kuda.

Terlebih lagi dulunya suasana di lokasi tersebut yang ditumbuhi pohon beringin tua semakin menambah kesan angker.

“Tapi kini pohon beringin itu kini ditebang karena sudah lapuk. Di tengah batang pohonnya berongga atau keropos. Bahkan sering saya pakai tempat sembunyi dan berteduh dengan teman waktu itu,” papar Soleman.

Untuk membuat suasana kembali dingin, pohon beringin juga ditanam kembali untuk menggantikan pohon yang lama. Saat ini kesan angker sudah tidak terlihat lagi. Pembangunan jalan paving menuju lokasi Watu Amben juga sudah dibangun dengan anggaran dana desa tahun 2019.

Watu Amben pun menjadi tempat yang representatif, tidak hanya untuk acara tradisi, tetapi juga kekinian untuk latar foto dokumentasi diri dan kajian arkeologi sehingga keberadaannya tetap terjaga.

“Watu Amben adalah salah satu ikon Desa Waru. Selain yang menjadi andalan adalah pesona puncak gunung Mundri. Mulai ramai dikunjungi wisatawan. Semua dikelola oleh pemuda dan karang taruna. Kita mendukung sepenuhnya,” terang dia.

Bagi warga yang ingin datang ke lokasi Watu Amben atau mendaki puncak Mundri disarankan untuk mematuhi protokol kesehatan dan minta petunjuk dari pemandu yang siaga di basecamp.

“Jaga stamina, makan terlebih dahulu sebelum naik ke Mundri, biar kuat. Jangan lupa patuh protokol kesehatan Covid-19,” tegasnya.

Dari data pengunjung sejak tiga bulan dibukanya Watu Amben hingga puncak Mundri, lebih kurang 30 pengunjung setiap hari.

Soyo menyadari, akses jalan desa dari Desa Soko (Sayuran) menuju lokasi tersebut memang cukup menguji nyali. Selain jalan batu, juga ada beberapa tikungan dan tanjakan yang memerlukan kewaspadaan bagi para pengendara sepeda motor atau mobil.

“Harus hati-hati dan waspada. Tapi itulah seni, pengalaman yang akan menjadi kenangan sepanjang masa,” kata dia.

Sumber/foto : Pemkab Blora

Follow Berita Hariankota di Google News

Berita Terkait