Upaya ini menjadi semakin penting mengingat masih banyak masyarakat yang belum mengenali perbedaan Jaran Bikar dengan seni tradisional lain. Padahal, keunikan Jaran Bikar justru menjadi kekuatan utama yang membuatnya layak diakui secara nasional, bahkan dunia.
Kehadiran Jaran Bikar di panggung Soloraya Great Sale 2025 bukan semata agenda pelengkap. Menurut Angga Deki Prasetiyo, Koordinator Divisi Acara SGS Karanganyar, pertunjukan ini adalah strategi untuk mengangkat budaya lokal dalam event ekonomi kreatif.
“SGS bukan cuma soal diskon atau promosi dagang. Ini juga soal identitas. Jaran Bikar adalah wajah budaya Karanganyar yang perlu terus kita tampilkan di panggung publik,” kata Angga.
Bagi sebagian penonton, ini adalah kali pertama mereka menyaksikan Jaran Bikar secara langsung. Banyak yang terkesima, tak sedikit yang mengaku baru mengetahui bahwa seni sekaya ini ternyata berasal dari Karanganyar sendiri.
Jaran Bikar bukan sekadar tarian rakyat. Ia adalah denyut sejarah, nyala semangat, dan suara perlawanan yang dititipkan dalam bentuk seni. Di setiap derap kuda kayu, ada pesan dari masa lalu: bahwa rakyat Karanganyar pernah berdiri melawan, dan bahwa warisan itu masih hidup—menari, berteriak, dan mengilhami generasi masa kini.***


Silakan Masuk atau Daftar untuk mengirim komentar.