Kisah Heroik di Balik Lahirnya Tarian Jaran Bikar Asal Karanganyar

Jaran Bikar adalah tarian rakyat asli Karanganyar yang lahir dari semangat perjuangan Raden Mas Said. Sarat nilai sejarah, budaya, dan filosofi Jawa yang khas

chat_bubble_outline 0
Kisah Heroik dibalik terciptanya tarian jaran bigar (Foto: HARIANKOTA/Bramantyo)

Dalam setiap punden di desa, mereka mengadakan pertunjukan tahunan. Dari ritual-ritual itulah, Jaran Bikar lahir—sebagai seni untuk mengenang perjuangan dan membakar semangat masyarakat desa agar tetap waspada, bersatu, dan siap jika ancaman datang kembali.

“Waktu itu, rakyat harus disemangati. Jaran Bikar diciptakan untuk membangkitkan semangat, mengajarkan tentang keberanian dan kebersamaan,” ujar Bang Peh.

Jaran Bikar adalah tarian simbolis. Penarinya menunggangi kuda kayu, melambangkan sedulur papat lima pancer—konsep kosmologi Jawa tentang empat saudara spiritual yang mengelilingi diri manusia. Di tengahnya ada pamomong, tokoh penuntun, simbol dari sosok pemimpin seperti Raden Mas Said.

Dalam setiap pertunjukan, muncul pula tokoh antagonis: buto, yang melambangkan penjajahan, kekuasaan zalim, dan nafsu manusia. Ketika penari ‘kerasukan’ dan kehilangan kendali, pamomong hadir untuk menyadarkan mereka dengan cambuk atau mantra. Sebuah narasi spiritual tentang bagaimana rakyat membutuhkan pemimpin yang arif untuk keluar dari kegelapan.

“Gerakannya memang magis, tapi semua ada maknanya. Ini tarian yang penuh pesan, bukan sekadar tontonan,” jelas Bang Peh.

Banyak yang menyangka Jaran Bikar sama seperti jathilan atau reog. Padahal tidak. Dari struktur lakon, jumlah penari, hingga narasi pertunjukan, Jaran Bikar punya ciri khas sendiri.

Beberapa lakon yang kerap diangkat antara lain Perang Gagar Sukawati, kolaborasi Raden Mas Said dengan Pangeran Mangkubumi melawan Belanda, serta cerita rakyat seperti Panji Asmarabangun dan Tudamala. Jumlah penari pun bervariasi, mulai dari 7 hingga 9 orang, dengan komposisi 4 penunggang kuda, 1 pamomong, 2 penjangkep, dan tokoh buto.

“Buto bukan sekadar karakter jahat. Ia adalah simbol penindasan dan keserakahan. Saat buto mengamuk, itu menggambarkan manusia yang kehilangan arah,” kata Bang Peh.

Saat ini, komunitas Jaran Bikar tengah mengupayakan agar kesenian ini terdaftar sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Indonesia. Bang Peh menyebut, Jaran Bikar memenuhi seluruh kriteria: unik, mengandung nilai sejarah dan budaya, diwariskan lintas generasi, serta memiliki bentuk yang khas secara regional.

“Jaran Bikar sudah ada sejak 1757, dan sampai sekarang masih lestari. Ini bukan hanya milik Karanganyar, tapi milik bangsa. Kita harus amankan statusnya secara resmi,” ujarnya.

Tidak ada komentar

Silakan Masuk atau Daftar untuk mengirim komentar.

Berita Terbaru Lainnya