Kampung Banana Krezz, Cita Rasa Pisang Lereng Lawu dari Dapur Warga Karanganyar

chat_bubble_outline 0

 

KARANGANYAR, HARIANKOTA.COM – Aroma pisang yang dipanggang perlahan tercium begitu melangkah ke Kampung Banana Krezz, Karangpandan, Karanganyar. Dari dapur sederhana di lereng Gunung Lawu inilah, pisang lokal diolah menjadi camilan khas yang renyah, manis, dan kaya inovasi.

Tak sekadar menyuguhkan makanan ringan, Kampung Banana Krezz menghadirkan pengalaman kuliner berbasis potensi desa. Pisang yang selama ini menjadi hasil kebun warga setempat, diolah menjadi aneka produk bernilai jual tinggi dan siap menjadi buah tangan khas Karanganyar.

Beragam olahan berbahan dasar pisang tersedia di tempat ini. Mulai dari Banana Krezz yang menjadi ikon, lapis pisang oven, hingga berbagai jajanan kreasi lainnya. Seluruh bahan baku berasal dari panen petani Karangpandan, wilayah yang dikenal sebagai salah satu sentra pisang di lereng Lawu.

Salah satu menu yang paling banyak diburu pengunjung adalah pisang tanduk oven. Berbeda dari pisang goreng atau pisang mollen pada umumnya, pisang ini diproses dengan teknik pemanggangan, menghasilkan karakter rasa yang lebih ringan, kering, dan tidak berminyak.

Di balik kelezatan tersebut, ada konsep pemberdayaan yang sejak awal menjadi roh Kampung Banana Krezz. Pemiliknya, Aris Munandar, menyebut tempat ini memang dirancang sebagai ruang kreatif warga untuk mengolah pisang dengan cara berbeda.

“Sejak awal kami ingin pisang petani tidak hanya dijual mentah. Di sini kami olah dengan teknik khusus supaya punya nilai jual lebih dan bisa menggerakkan ekonomi warga,” ujar Aris saat ditemui belum lama ini.

Saat diajak melihat dapur produksi, Aris membuka rahasia di balik tekstur khas Banana Krezz. Menurutnya, perbedaan utama terletak pada metode pengolahan yang tidak melalui proses penggorengan.

“Kalau pisang mollen biasanya digoreng. Banana Krezz ini kami oven, jadi lebih kering, ringan, dan kriuknya tahan lama,” jelasnya.

Teknik tersebut membuat Banana Krezz tetap renyah hingga dua hari. Bahkan jika teksturnya mulai berkurang, camilan ini bisa dipanaskan kembali untuk mengembalikan sensasi kriuk.

“Cukup dioven atau dipanaskan di teflon, teksturnya bisa balik lagi,” tambah Aris.

Soal rasa, Banana Krezz tak kalah memanjakan lidah. Beragam topping ditawarkan, mulai dari cokelat, kurma sukari, durian, hingga ubi dan ketela ungu. Kombinasi ini menciptakan sensasi manis yang berlapis dan tidak membosankan.

Proses pembuatannya pun cukup unik. Pisang tidak diiris, melainkan dihaluskan terlebih dahulu sebelum dimasukkan ke dalam adonan tepung yang dicetak khusus.

“Setelah dicetak dan diisi pisang blender, baru kami oven sekitar 30 menit. Setelah matang, topping ditambahkan sesuai pesanan,” ungkap Aris.

Hasilnya adalah camilan dengan bagian luar yang renyah, sementara bagian dalamnya lembut dan lumer saat digigit. Perpaduan rasa manis alami pisang dengan topping pilihan menjadi ciri khas yang membuat banyak pengunjung kembali lagi.

Dengan harga Rp25 ribu per kemasan berisi enam buah, Banana Krezz menjadi pilihan oleh-oleh khas lereng Lawu yang praktis, terjangkau, dan sarat cerita pemberdayaan warga. Dari dapur kecil Karangpandan, pisang lokal kini naik kelas menjadi identitas kuliner Karanganyar.

Tidak ada komentar

Silakan Masuk atau Daftar untuk mengirim komentar.

Berita Terbaru Lainnya

Pemkot Solo mengajak pelaku usaha memberikan data akurat dalam Sensus Ekonomi 2026. BPS Surakarta menerjunkan 362 petugas untuk pendataan hingga 31 Agustus 2026.

20 jam yang lalu