Harga Solar Industri Naik, Gubernur Ahmad Luthfi Kawal Aspirasi Nelayan Jateng

Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi siap mengawal aspirasi nelayan terkait kenaikan harga solar industri yang membuat banyak kapal di atas 30 GT berhenti melaut.

chat_bubble_outline 0
audiensi Gubernur Jateng dengan HNSI Jawa Tengah bersama nelayan dan pelaku usaha perikanan di Semarang, Jumat (8/5/2026).

SEMARANG, HARIANKOTA.COM  — Kenaikan harga solar industri yang digunakan kapal nelayan berukuran di atas 30 gross ton (GT) mulai berdampak serius terhadap aktivitas melaut di Jawa Tengah.

Menanggapi kondisi itu, Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menyatakan siap mengawal aspirasi nelayan hingga ke pemerintah pusat.

Komitmen tersebut disampaikan usai menerima audiensi Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Jawa Tengah bersama pelaku usaha perikanan dan perwakilan nelayan di Semarang, Jumat (8/5/2026).

Menurut Luthfi, lonjakan harga solar nonsubsidi dari kisaran Rp13 ribu-Rp15 ribu per liter menjadi sekitar Rp25 ribu hingga Rp30 ribu per liter membuat biaya operasional kapal meningkat drastis.

“Nelayan kapal di atas 30 GT sangat terdampak karena mereka menggunakan BBM nonsubsidi. Kondisi ini tentu memberatkan operasional saat melaut,” ujarnya.

Pemprov Jawa Tengah, lanjutnya, akan segera menyusun langkah koordinasi dengan sejumlah kementerian terkait, termasuk Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Kementerian ESDM, hingga Kementerian Keuangan agar ada solusi bagi nelayan.

Ia menilai persoalan tersebut tidak hanya berdampak pada nelayan, tetapi juga bisa memengaruhi rantai ekonomi sektor perikanan secara luas.

“Kalau kapal tidak melaut, produksi ikan menurun, harga ikan bisa naik, dan dampaknya juga bisa berpengaruh terhadap inflasi daerah,” katanya.

Sebagai tindak lanjut, Gubernur Ahmad Luthfi berencana menemui pedagang ikan, asosiasi nelayan, dan pelaku usaha perikanan di Juwana, Kabupaten Pati untuk menyerap persoalan yang dihadapi sektor perikanan tangkap.

Sementara itu, Ketua HNSI Jawa Tengah, Riswanto, mengungkapkan banyak kapal nelayan di Juwana kini berhenti beroperasi akibat tingginya harga solar industri.

“Di Juwana ada sekitar 1.600 kapal di atas 30 GT. Banyak kapal saat ini memilih tidak melaut karena biaya BBM terlalu tinggi,” ujarnya.

Ia berharap pemerintah pusat dapat memberikan kebijakan khusus berupa relaksasi harga BBM nonsubsidi untuk kapal nelayan berukuran besar agar aktivitas melaut kembali normal.

Berdasarkan data yang disampaikan HNSI, jumlah kapal perikanan aktif di Jawa Tengah dengan ukuran di atas 30 GT mencapai 2.224 unit. Sesuai aturan pemerintah, kapal di atas 30 GT tidak lagi memperoleh solar subsidi dan wajib menggunakan BBM industri

Tidak ada komentar

Silakan Masuk atau Daftar untuk mengirim komentar.

Berita Terbaru Lainnya