KARANGANYAR,HARIANKOTA.COM Enam siswa dan guru SDN 04 Wonorejo, Kecamatan Gondangrejo, Karanganyar mengalami keracunan usai mengonsumsi makanan dari Program Makan Bergizi Gratis (MBG) pada April lalu.
Insiden ini mendorong Komisi D DPRD Karanganyar untuk bertindak cepat dengan menggelar rapat koordinasi bersama sejumlah pemangku kepentingan guna mencegah kejadian serupa terulang.
Rapat kerja digelar di ruang rapat Gedung OR DPRD Karanganyar. Hadir dalam pertemuan tersebut perwakilan dari Dinas Kesehatan Karanganyar, Dinas Pendidikan, Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Cabang Surakarta, serta para pengelola Sentra Pangan Program Gizi (SPPG) dan Sentra Pengelola Program Inovatif (SPPI) yang selama ini bertugas menyiapkan menu MBG di lapangan.
Hasil Investigasi Dinkes: Makanan Terkontaminasi Mikroorganisme
Kepala Seksi Imunisasi di Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Karanganyar, Winarsi, membeberkan hasil investigasi yang dilakukan terhadap kasus keracunan tersebut.
“Dari hasil uji laboratorium terhadap sampel makanan yang dikonsumsi siswa, ditemukan bahwa makanan telah terkontaminasi mikroorganisme berbahaya,” ungkap Winarsi dalam rapat.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa kontaminasi terjadi karena kesalahan dalam proses penyiapan dan penyimpanan makanan.
Makanan yang seharusnya langsung dikonsumsi, justru disiapkan sejak malam sebelumnya dan baru disajikan pada keesokan harinya sekitar pukul 09.30 pagi.
“Waktu simpan yang terlalu lama menyebabkan pertumbuhan mikroorganisme, termasuk bakteri penyebab keracunan makanan,” jelasnya.
DPRD Desak Semua Pihak Bertanggung Jawab Lebih Aktif
Ketua Komisi D DPRD Karanganyar, Ali Akbar, menegaskan bahwa kejadian ini menjadi alarm bagi seluruh pihak yang terlibat dalam pelaksanaan Program MBG untuk lebih bertanggung jawab dan aktif dalam pengawasan serta pelaksanaan SOP (Standar Operasional Prosedur).
“Kami meminta Dinas Pendidikan Karanganyar untuk lebih proaktif dalam mengawasi pelaksanaan program ini karena sasarannya adalah peserta didik. Dinas Kesehatan juga harus selalu siap tanggap jika ada kasus serupa,” tegas Ali.
Ali menambahkan, pihaknya tidak akan mentolerir pelanggaran dalam hal keamanan pangan, karena dampaknya langsung menyentuh kesehatan siswa. Ia juga menyoroti pentingnya pengawasan menyeluruh terhadap kualitas makanan yang disajikan.
“SPPG dan SPPI sebagai pelaksana teknis harus memahami pentingnya kualitas dan keamanan makanan. SOP wajib dijalankan dengan ketat dan tidak boleh dilanggar,” lanjutnya.
BPOM Siapkan Pelatihan Pengolahan Aman bagi SPPG dan SPPI
Menyikapi kasus ini, Kepala Balai Besar POM Surakarta, M. Fajar Arif, menyampaikan bahwa BPOM bersama Badan Gizi Nasional (BGN) telah menyiapkan pelatihan khusus untuk seluruh pengelola program, termasuk SPPI dan para juru masak di SPPG.
“Pelatihan ini akan mencakup materi penting tentang pengolahan makanan yang aman, teknik penyimpanan yang benar, serta cara distribusi makanan agar tidak terkontaminasi,” jelas Fajar.
Menurutnya, pelatihan ini telah mulai dijalankan di sejumlah wilayah di Jawa Tengah sebagai langkah awal dan akan diperluas ke daerah lain.
“Kami latih mulai dari SPPI hingga juru masaknya. Mereka akan dibekali dengan standar keamanan pangan sesuai regulasi nasional dan BPOM,” tambahnya.
Program MBG Tetap Berlanjut dengan Evaluasi Menyeluruh
Meskipun insiden ini mencoreng pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis, DPRD Karanganyar menegaskan bahwa program tetap akan berlanjut karena menyasar kepentingan langsung siswa. Namun, perbaikan sistem dan peningkatan kompetensi pelaksana akan menjadi fokus utama ke depan.
“Tujuan MBG sangat mulia, yaitu memberikan asupan gizi seimbang untuk siswa. Tapi, jika pelaksanaannya tidak profesional, maka akan membahayakan. Kami akan terus pantau agar tidak ada lagi kejadian serupa,” tegas Ali Akbar.
Dengan adanya koordinasi lintas instansi, peningkatan pelatihan, dan pengawasan ketat, diharapkan pelaksanaan program MBG di Karanganyar dapat berjalan lebih aman, berkualitas, dan tetap menjadi solusi nyata bagi peningkatan gizi anak-anak sekolah dasar.***


Silakan Masuk atau Daftar untuk mengirim komentar.