Dari Tenda Pengungsian, Syarifudin Menata Harapan dan Bersiap Bangkit

Kisah Syarif bersiap bangkit pelan, sederhana, namun penuh harapan/InfoPublik

chat_bubble_outline 0

 

JAKARTA, HARIANKOTA.COM – Banjir yang melanda Kabupaten Aceh Tamiang pada akhir November 2025 memaksa ribuan warga meninggalkan rumah dan menjalani hari-hari sulit di pengungsian. Genangan air tak hanya merendam permukiman, tetapi juga memutus rutinitas hidup dan sumber penghidupan banyak keluarga.

Namun, di balik keterbatasan tenda-tenda pengungsian dan lumpur yang belum sepenuhnya mengering, semangat untuk bertahan dan bangkit tetap menyala.

Di salah satu sudut lokasi pengungsian Kejuruan Muda, terdengar bunyi gunting yang beradu pelan. Di sanalah Syarifudin (41), seorang tukang pangkas rambut, kembali membuka jasanya dengan peralatan sederhana dan cermin seadanya. Dari kursi darurat itulah ia menata rambut, sekaligus menata harapan.

“Sudah tiga tahun saya jadi tukang pangkas rambut,” ujar Syarif, dikutip dari laman InfoPublik, Jumat (2/1).

Sebelum banjir, usaha pangkas rambut menjadi sandaran hidupnya. Kini, meski harus tinggal di pengungsian bersama orang tua dan adiknya, Syarif memilih untuk tidak menyerah pada keadaan.

Ia kembali bekerja sekitar sepekan terakhir, setelah kondisi pengungsian mulai tertata.

Jumlah pelanggan memang belum banyak. Dalam sehari, ia hanya melayani dua hingga tiga orang—jauh berbeda dengan hari-hari normal saat ia bisa melayani belasan hingga puluhan pelanggan. Namun bagi Syarif, yang terpenting adalah tetap berusaha.

“Yang penting masih bisa kerja, walaupun sedikit,” katanya.

Di pengungsian, Syarif menyesuaikan tarif jasanya. Orang dewasa dikenakan Rp15.000, sementara anak-anak ia layani tanpa biaya. Baginya, empati lebih penting daripada keuntungan. Ia memahami betul kondisi warga yang tengah berjuang bangkit dari bencana.

Dalam situasi normal, tarif pangkas rambutnya bisa mencapai Rp25.000 hingga Rp30.000 untuk orang dewasa.

Meski pendapatan kini jauh berkurang, Syarif tetap memilih bekerja agar tidak sepenuhnya bergantung pada bantuan.
Selama berada di pengungsian, ia dan keluarganya menerima bantuan kebutuhan dasar seperti beras, telur, selimut, tikar, hingga makanan siap saji.

Bantuan itu sangat berarti, namun Syarif ingin tetap menjaga kemandirian dan martabat.

“Bantuan sangat membantu, tapi saya tetap ingin berusaha cari uang sendiri,” ujarnya.

Lebih dari sekadar mencari nafkah, kehadiran Syarif membawa suasana berbeda di pengungsian. Kursi pangkas sederhana menjadi ruang kecil untuk berbincang, berbagi cerita, dan sejenak melupakan duka banjir.

Kisah Syarif mencerminkan ketangguhan warga Aceh Tamiang. Bencana boleh datang dan merusak, tetapi semangat untuk bangkit tidak ikut hanyut. Dari bunyi gunting yang terus bekerja di pengungsian, tersimpan keyakinan bahwa kehidupan akan pulih perlahan.

Syarif pun menaruh harapan besar. Ia ingin kondisi segera membaik, air surut, dan warga kembali ke rumah masing-masing.

“Semoga cepat normal lagi, supaya pelanggan bertambah dan kehidupan kembali berjalan,” tuturnya.

Di tengah keterbatasan, langkah kecil Syarif menjadi simbol bahwa Aceh Tamiang sedang bersiap bangkit pelan, sederhana, namun penuh harapan.

Tidak ada komentar

Silakan Masuk atau Daftar untuk mengirim komentar.

Berita Terbaru Lainnya