BADUNG, HARIANKOTA. COM– Nilai transaksi Bali and Beyond Travel Fair (BBTF) 2026 memang menyusut hampir Rp1 triliun dibandingkan tahun lalu. Namun di saat yang sama,
Bali justru mencatat kenaikan pendapatan sektor pariwisata, memunculkan sinyal bahwa wisatawan yang datang kini lebih sedikit tetapi membelanjakan uang lebih besar.
Selama tiga hari penyelenggaraan pada 28-30 Mei 2026 di Nusa Dua, Badung, BBTF 2026 membukukan potensi transaksi sebesar Rp6,9 triliun.
Angka tersebut berada di bawah target Rp7,6 triliun dan turun sekitar 12 persen dibandingkan capaian tahun lalu yang mencapai Rp7,84 triliun.
Penurunan transaksi juga diikuti berkurangnya jumlah peserta. Tahun ini, BBTF diikuti 407 buyer dari 44 negara dan 286 seller. Pada penyelenggaraan 2025, ajang serupa menghadirkan 529 buyer dari 45 negara serta 499 seller.
Ketua Panitia BBTF 2026, Putu Winastra, mengatakan penurunan transaksi tidak bisa dilihat semata-mata sebagai indikator melemahnya industri pariwisata.
Menurutnya, kondisi global, termasuk dampak konflik di Timur Tengah, turut memengaruhi mobilitas sejumlah pelaku industri wisata internasional.
Meski demikian, ia menilai BBTF tahun ini tetap menunjukkan tingginya kepercayaan pasar global terhadap Bali dan Indonesia sebagai destinasi wisata.
“Di tengah lanskap pariwisata global yang kompetitif, Bali tetap menjadi pintu gerbang utama ke Indonesia, sementara minat terhadap destinasi di luar Bali terus tumbuh,” ujar Winastra saat konferensi pers penutupan BBTF 2026, Sabtu (30/5/2026).
Menurut dia, penyelenggaraan BBTF 2026 memperlihatkan perubahan perilaku pasar yang semakin selektif dalam menentukan produk wisata.
Buyer tidak lagi hanya mempertimbangkan popularitas destinasi, tetapi juga kesiapan infrastruktur, kualitas layanan, profesionalisme pelaku industri, hingga kejelasan posisi pasar sebuah daerah tujuan wisata.
Karena itu, Winastra menilai masa depan pariwisata Bali tidak lagi bertumpu pada peningkatan jumlah kunjungan semata.
“Masa depan pariwisata Bali bukan sekadar meningkatkan jumlah pengunjung, melainkan memperkuat penciptaan nilai, meningkatkan kualitas pengunjung, dan menjaga daya saing jangka panjang,” katanya.
Pandangan serupa disampaikan Gubernur Bali Wayan Koster. Ia mengungkapkan jumlah wisatawan yang datang ke Bali pada Mei 2026 memang turun sekitar 7 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Namun, di tengah penurunan kunjungan tersebut, penerimaan daerah dari sektor pariwisata justru mengalami peningkatan.
Data Pemerintah Provinsi Bali mencatat penerimaan Pajak Hotel dan Restoran (PHR) hingga 27 Mei 2026 mencapai Rp2,89 triliun. Nilai itu lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang sebesar Rp2,62 triliun.
Koster menilai kondisi tersebut menunjukkan bahwa wisatawan yang berkurang sebagian besar berasal dari segmen yang tidak memberikan kontribusi optimal terhadap penerimaan daerah, termasuk pengguna akomodasi tidak berizin.
Sebaliknya, hotel berbintang dan akomodasi resmi masih mencatat tingkat hunian yang tinggi sehingga mampu menjaga kontribusi sektor pariwisata terhadap perekonomian Bali.
“Yang berkurang itu wisatawan yang menginap di akomodasi tidak berizin. Sementara hotel-hotel resmi tetap terisi dengan baik,” ujar Koster.
Pada kesempatan yang sama, panitia mengumumkan rencana pengembangan BBTF pada tahun depan. Memasuki tahun ke-13 penyelenggaraan, ajang tersebut direncanakan bertransformasi menjadi Bali and Nusra Travel Fair dengan melibatkan Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Nusa Tenggara Timur (NTT).
BBTF 2027 dijadwalkan berlangsung pada 9-11 Juni 2027 dengan mengusung tema Bali and Beyond: Regenerative Travel Elevated yang berfokus pada pengembangan pariwisata regeneratif.
Konsep tersebut menempatkan pariwisata tidak hanya sebagai penggerak ekonomi, tetapi juga sebagai instrumen untuk memperkuat kesejahteraan masyarakat lokal, menjaga lingkungan, serta melestarikan budaya daerah.
Koster menyambut positif rencana tersebut dan mendorong perluasan kolaborasi kawasan Bali dan Nusa Tenggara dalam promosi pariwisata internasional.
“Saya mengusulkan agar ke depan namanya dikaji menjadi Bali Nusa Travel Fair sehingga Bali, NTB, dan NTT dapat berkolaborasi lebih kuat dalam memasarkan destinasi wisata ke pasar dunia,” katanya.***


Silakan Masuk atau Daftar untuk mengirim komentar.