Sarasehan Ada Apa dengan Giyanti Menafsir Ulang Perjanjian Giyanti untuk Merawat Persatuan Nusantara

Sarasehan di Situs Perjanjian Giyanti Karanganyar mengajak publik menafsir ulang sejarah Giyanti sebagai pembelajaran untuk merawat persatuan Nusantara

chat_bubble_outline 0

KARANGANYAR, HARIANKOTA.COM – Situs Perjanjian Giyanti di Karanganyar kembali menjadi ruang diskusi sejarah pada Senin malam (12/1/2026). Melalui sarasehan “Ada Apa dengan Giyanti?”, Yayasan Suket Lawu Mawiji mengajak publik menafsir ulang peristiwa Giyanti sebagai pembelajaran tentang persatuan Nusantara.

Kegiatan ini tidak dimaksudkan untuk menghidupkan kembali polemik masa lalu atau membuka luka sejarah, melainkan menghadirkan pembacaan kritis terhadap Perjanjian Giyanti sebagai peristiwa penting yang membentuk arah perjalanan Nusantara.

Sarasehan tersebut menjadi ruang refleksi untuk menempatkan sejarah sebagai sumber kesadaran, bukan sebagai alat konflik.

Sejarawan dan budayawan Solo, Samsul Bachri, dalam pemaparannya menegaskan bahwa Perjanjian Giyanti perlu dipahami melampaui konteks kronologis.

Menurutnya, perjanjian tersebut merupakan simbol runtuhnya kedaulatan Mataram akibat politik adu domba yang dijalankan secara sistematis.

“Perjanjian Giyanti bukan sekadar dokumen hukum, melainkan monumen sejarah yang mengajarkan bagaimana perpecahan dilembagakan melalui kekuasaan,” ujar Samsul.

Ia menjelaskan, strategi divide et impera tidak hanya membelah Mataram di tingkat elite, tetapi juga meresap hingga struktur pemerintahan paling bawah.

Pemisahan wilayah yang dikenal dengan istilah Sigar Semongko dilakukan secara acak dan berdampingan guna mencegah terbentuknya konsolidasi antardaerah.

“Wilayah-wilayah disusun dengan loyalitas politik berbeda, sehingga setiap upaya konsolidasi mudah terdeteksi. Kondisi ini memicu konflik horizontal dan ketegangan berkepanjangan di tingkat masyarakat,” paparnya.

Menurut Samsul, dampak Perjanjian Giyanti tidak berhenti pada aspek geografis. Polarisasi identitas yang muncul antara Surakarta dan Yogyakarta turut membentuk perbedaan pola hidup, ekspresi budaya, serta cara pandang sosial yang masih terasa hingga kini.

Lebih jauh, ia menyoroti dampak psikologis jangka panjang dari sejarah perpecahan tersebut. Trauma kolektif yang diwariskan membuat masyarakat mudah terprovokasi dan diadu domba oleh kepentingan politik.

“Perpecahan masa lalu itu bekerja di alam bawah sadar. Polanya terus berulang karena tidak pernah diselesaikan secara kesadaran,” katanya.

Dari refleksi tersebut muncul gagasan “Mupus Giyanti”, yakni upaya simbolik untuk mengakhiri warisan mentalitas terpecah belah dan membangun kembali semangat persatuan yang dirumuskan sebagai “Mataram Binangun”.

Gagasan ini tidak dimaknai sebagai proyek politik, melainkan sebagai gerakan kesadaran budaya dan spiritual.

Samsul menilai, Karanganyar dan kawasan Gunung Lawu memiliki posisi strategis dalam ikhtiar tersebut. Secara historis dan spiritual, wilayah ini dipandang sebagai titik temu yang mampu merajut kembali kesadaran Nusantara.

“Spirit kebangkitan tidak lahir dari nostalgia masa lalu, tetapi dari kesadaran untuk menata masa depan secara lebih berdaulat,” ujarnya.

Dalam kesempatan yang sama, Handoko, perwakilan Yayasan Suket Lawu Mawiji, menegaskan bahwa sarasehan ini merupakan bagian dari upaya kebudayaan untuk menjembatani dialog lintas generasi dan lintas wilayah.

Menurutnya, meskipun secara administratif dan geografis Yogyakarta dan Surakarta berdiri sebagai entitas yang berbeda, keduanya memiliki akar sejarah dan kultural yang sama. Karena itu, penyatuan kembali harus dimaknai dalam kerangka nilai dan kesadaran, bukan dalam batas teritorial.

“Secara wilayah, Jogja tetap Jogja dan Solo tetap Solo. Namun secara spiritual dan kultural, benang merah perpecahan itu perlu diputus agar tidak terus diwariskan ke generasi berikutnya,” kata Handoko.

Ia menambahkan, Yayasan Suket Lawu Mawiji berkomitmen pada tiga pilar utama, yakni sejarah, budaya, dan spiritualitas. Sarasehan budaya ini digelar sebagai ruang diskusi sekaligus langkah strategis untuk merawat ingatan sejarah dan membangun kesadaran kebangsaan yang lebih matang.

Di tengah dinamika zaman yang kembali diwarnai polarisasi, sarasehan “Ada Apa dengan Giyanti?” menegaskan satu pesan utama: sejarah tidak berhenti sebagai arsip masa lalu. Ia hidup dalam cara sebuah bangsa memandang dirinya.

Dengan menafsir ulang Giyanti secara kritis dan dewasa, forum ini mengingatkan bahwa persatuan tidak lahir dari keseragaman, melainkan dari kesadaran bersama untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama.***

Tidak ada komentar

Silakan Masuk atau Daftar untuk mengirim komentar.

Berita Terbaru Lainnya