Kisah Heroik PO Coyo: Dari Truk Bekas Perang Jadi Legenda Bus Jawa Tengah yang Terancam Punah

Di tengah gempuran modernisasi dan persaingan ketat, terselip kisah heroik sebuah perusahaan otobus (PO) legendaris asal Pekalongan, Jawa Tengah

chat_bubble_outline 0
PO Coyo bus legendaris di Jalur Pantura

PEKALONGAN, HARIANKOTA.COM – Di tengah gempuran modernisasi dan persaingan ketat, terselip kisah heroik sebuah perusahaan otobus (PO) legendaris asal Pekalongan, Jawa Tengah, PO Coyo.

Siapa sangka, cikal bakal perusahaan yang dulunya bernama PERTJOJO ini berawal dari ide sederhana seorang pedagang beras yang melihat peluang dari truk bekas Perang Dunia II sekitar tahun 1950-an.

Untung Winoto, Direktur PO Coyo, melalui kanal YouTube PerpalZ TV, mengungkapkan akar unik perusahaan ini. Kakeknya, seorang pedagang beras sukses, awalnya memiliki truk untuk mengangkut dagangannya.

Namun, pemandangan masyarakat yang seringkali menumpang truknya memunculkan ide brilian: “Bagaimana kalau truk bekas perang diambil dan dirombak jadi bus kayu?”

Gayung bersambut, niat mulia ini diwujudkan dengan meminta truk-truk bekas peninggalan Belanda yang terbengkalai kepada pemerintah daerah.

“Coyo dulu nggak ada bus, kita pakainya truk. Engkong saya itu ambil truk bekas Belanda yang sudah jatuh di parit atas persetujuan pemda,” kenang Untung.

Tak hanya berjualan beras dan merintis transportasi, sang kakek juga memiliki usaha perhotelan dan vulkanisir ban.

Kompleksitas bisnis ini kemudian dipercayakan kepada ayah Untung untuk fokus mengembangkan PO Coyo.

Di bawah kepemimpinan generasi kedua pada era 1960-an, PO Coyo semakin melebarkan sayapnya hingga mencapai Semarang pada tahun 1980-an, melayani rute Antar Kota Antar Provinsi (AKAP) dan Antar Kota Dalam Provinsi (AKDP).

Sebuah inovasi berani ditorehkan oleh ayah Untung, yang menjadi pelopor bus patas AC di masanya.

Keputusan yang dianggap revolusioner mengingat harga satu unit AC setara dengan satu unit bus kala itu, membuat banyak pesaing ragu untuk mengikutinya.

Selain itu, PO Coyo juga dikenal sebagai salah satu perusahaan yang berani mengambil trayek pedesaan, menjawab permintaan masyarakat yang selama ini terabaikan.

Namun, kejayaan PO Coyo kini tengah diuji. Sepinya penumpang akibat persaingan dengan kereta api dan kendaraan pribadi, ditambah dengan tantangan regenerasi kepemimpinan, membuat perusahaan ini berada di ujung tanduk kolaps.

Ironis memang, sebuah legenda transportasi yang lahir dari semangat gotong royong dan inovasi kini harus berjuang untuk bertahan.

Kisah PO Coyo bukan sekadar cerita tentang perusahaan bus. Ini adalah potret kegigihan, inovasi, dan warisan keluarga yang terancam hilang ditelan zaman.

Akankah PO Coyo mampu bangkit kembali dan melanjutkan perjalanannya sebagai salah satu pilar transportasi di Jawa Tengah? Waktu yang akan menjawab.

 

Tidak ada komentar

Silakan Masuk atau Daftar untuk mengirim komentar.

Berita Terbaru Lainnya