Serta sejumlah yayasan nirlaba (Animals Don’t Speak Human, Animal Friends Jogja, Asia for Animals Indonesia Cage-Free Association, Perkumpulan Ayam Sejahtera Indonesia, Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia.
Across Species Project Indonesia), perwakilan dari Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia, Asosiasi Obat Hewan Indonesia, Asosiasi Dokter Hewan Perunggasan Indonesia, perwakilan dari produsen yaitu PT Inti Prima Satwa Sejahtera.
Humane Farm Animal Care selaku badan sertifikasi internasional, Global Food Partners selaku badan konsultan, dan pihak korporasi (Novotel Jakarta Cikini, Circle K Indonesia, LaRona Group, MAKA Group, Marugame Udon).
Ada pula Federasi Asosiasi Dokter Hewan Asia Malaysia, Asosiasi Dokter Hewan Malaysia, Departemen Layanan Hewan Malaysia, SPCA Selangor, The Sukhothai Bangkok, dan Departemen Pengembangan Peternakan Thailand juga hadir di acara tersebut sebagai perwakilan dari negara Malaysia dan Thailand.

Setelah sambutan pembukaan, Luiz Mazzon, Global Program Director dari badan sertifikasi internasional, Humane Farm Animal Care, menjelaskan peran penting sertifikasi dalam transisi menuju peternakan bebas sangkar, dengan menyatakan bahwa Sertifikasi itu penting, tetapi tidak cukup.
Produsen harus berkomitmen pada perbaikan manajemen peternakan yang berkelanjutan dan mendedikasikan waktu untuk mengedukasi konsumen serta pemangku kepentingan lain dalam ekosistem. HFAC memiliki metode untuk menilai dan memantau kesesuaian kesejahteraan hewan dan ketertelusuran, selain dari logo “Certified Humane®️” yang merupakan alat komunikasi yang kuat.” Humane Farm Animal Care hadir untuk mengelola proses transisi secara terukur, memastikan bahwa bisnis dapat berhasil mengadopsi model yang etis dan berkelanjutan.
Diskusi kemudian membahas tentang peran penting produsen dan konsultan dalam mendorong perubahan kesejahteraan hewan ini. Roby Gandawijaya, CEO PT Inti Prima Satwa Sejahtera, dan Jayasimha Nuggehalli, COO dan Co-Founder Global Food Partners, berbagi banyak informasi, yang mencakup konteks sejarah peternakan unggas di Indonesia hingga mengidentifikasi hambatan ekonomi dan menyajikan solusi nyata yang efektif untuk perusahaan yang ingin beralih ke sistem bebas sangkar.
Selain diskusi teknis, acara ini menampilkan kisah sukses dari perusahaan pengguna telur bebas sangkar dalam jumlah besar, Novotel Cikini. Perusahaan yang menargetkan 100% bebas sangkar pada tahun 2026 ini memberikan testimoni rinci mengenai implementasi dan dampak positifnya, membuktikan bahwa kesejahteraan hewan adalah investasi yang krusial untuk komitmen keberlanjutan.
Masa Depan Bebas Sangkar di Tiga Negara
“Tujuan kami dengan laporan ini adalah untuk mendorong lebih banyak perusahaan mengadopsi sistem bebas sangkar dan menunjukkan bahwa perubahan ini sangat mungkin diterapkan.
Dengan pertemuan ini, kami berharap pihak-pihak penting dari berbagai sektor dapat terhubung, bertukar ide, dan membina kolaborasi positif untuk mewujudkan masa depan bebas sangkar di Indonesia, Malaysia, dan Thailand.
Karena perubahan sudah perlahan terjadi dan pasar sudah bergerak ke arah sana,” jelas Aisah Nurul Fitri, Pemimpin Proyek White Paper Sinergia Animal.
Pertemuan tersebut diakhiri dengan diskusi terkait tantangan yang dihadapi oleh peternakan bebas sangkar, seperti kebutuhan, alasan ilmiah, dan cara-cara agar semua pihak dapat berkolaborasi untuk mempromosikan pertumbuhan tren bebas sangkar di Indonesia, Malaysia, dan Thailand.
Bagi Elly Mangunsong, Direktur Program Advokasi Kesejahteraan Hewan yang Diternakkan dari Animal Friends Jogja, acara tersebut menunjukkan bahwa masa depan bebas sangkar akan mungkin terwujud dengan kolaborasi kuat di antara semua pemangku kepentingan.
Pergeseran ini menawarkan manfaat yang signifikan, tidak hanya untuk kesejahteraan hewan dan kesehatan manusia, tetapi juga untuk keberlanjutan planet, mendorong transformasi penting dalam sistem produksi pangan di Indonesia, Malaysia, dan Thailand.
“Cepat atau lambat, penggunaan sangkar pasti akan berakhir. Dengan komitmen dan kolaborasi antara perusahaan, pemerintah, dan masyarakat, kita dapat memastikan masa depan yang lebih adil bagi hewan lebih aman bagi semua,” jelas Elly.
Tentang Act for Farmed Animals
Act For Farmed Animals merupakan inisiatif kolaboratif Animal Friends Jogja dan Sinergia Animal International untuk mengurangi penderitaan hewan yang diternakkan di Indonesia dan mempromosikan pilihan makanan yang lebih welas asih.


Silakan Masuk atau Daftar untuk mengirim komentar.