KARANGANYAR, HARIANKOTA.COM – Puluhan nasabah BMT Dinar Mulia Karanganyar melakukan aksi unjuk rasa di depan kantor koperasi syariah tersebut yang berlokasi di Kelurahan Cangakan, Kecamatan Karanganyar, Senin (5/5/2025).
Mereka menuntut kejelasan pencairan dana simpanan yang hingga kini tak kunjung bisa diakses.
Aksi dimulai sekitar pukul 09.30 WIB. Massa datang membawa poster berisi protes dan desakan terhadap pengurus BMT.
Bahkan, sejumlah demonstran masuk ke dalam kantor sambil meneriakkan nama pemilik koperasi agar segera bertanggung jawab atas masalah yang terjadi.
Sayangnya, kantor dalam kondisi kosong saat massa tiba. Tak satu pun perwakilan manajemen terlihat untuk menemui para nasabah.
Salah satu anggota, Saifudin, mengungkapkan keresahannya di tengah aksi. Menurutnya, ada sekitar 8.000 anggota BMT yang menghadapi nasib serupa.
Ia menyebutkan, berdasarkan data Rapat Anggota Tahunan (RAT) tahun 2023, total simpanan anggota mencapai Rp32 miliar, namun tidak ada kejelasan mengenai keberadaan dana tersebut saat ini.
“Katanya dana ditahan dua tahun, tapi tidak ada dasar hukum yang jelas. Tidak ada sertifikat, tidak transparan. Alasan pengurus pun terus berubah, mulai dari penipuan Rp2 miliar sampai Rp3 miliar, tapi itu berulang terus sejak 2022,” tegasnya.
Saifudin juga menyoroti tidak adanya RAT pada tahun 2024, yang makin menambah kecurigaan dan kegelisahan anggota.
Bahkan, setiap kali anggota menanyakan kejelasan dana, pengurus malah mengarahkan mereka ke advokat yang dianggap tidak memberikan solusi, melainkan justru membuat anggota takut.
Karena merasa tidak mendapat tanggapan yang memadai, sejumlah anggota telah mengambil langkah hukum. Laporan ke pihak kepolisian dilayangkan pada Desember 2024, dengan harapan ada tindak lanjut yang nyata.
“Ketua pengurus belum sekalipun menemui kami. Tidak ada iktikad baik untuk menyelesaikan masalah ini,” tambah Saifudin.
Kisah serupa juga diungkapkan Sumarmi, seorang ibu rumah tangga yang mengaku menyimpan dana sebesar Rp111 juta di BMT Dinar Mulia. Dana tersebut seharusnya digunakan untuk biaya pendidikan anaknya yang duduk di bangku SMK.
“Uang itu hasil menabung dari penghasilan suami yang buruh, kami kumpulkan pelan-pelan. Tapi sekarang malah terkatung-katung,” ujarnya dengan nada kecewa.
Ia berharap dana bisa segera dicairkan agar kebutuhan penting keluarganya bisa segera terpenuhi.***


Silakan Masuk atau Daftar untuk mengirim komentar.