Unik, Selain Menghadap ke Barat, Jalan di Tengah Pelataran Candi Ini Hanya Ditemukan Pada Bangunan Suci Jaman Megalithic

21 Maret 2024, 21:12 WIB

KARANGANYAR, HARIANKOTA.COM – Banyak kisah mistis gunung yang ada di Pulau Jawa. Salah satu diantaranya Gunung Lawu. Dari kisah mistik yang dipercaya masyarakat sekitar, Gunung yang masuk kedalam Seven Summits of Java (Tujuh Puncak Pulau Jawa) inilah yang paling kental cerita mistik hingga saat ini.

Di lereng Gunung yang dulunya bernama Wukir Mahendra inipun cerita-cerita mistis banyak ditemui. Salah satunya adalah candi Sukuh, peninggalan jaman purbakala yang terletak di lereng gunung Lawu.

Sepintas, Candi Sukuh sering disebut mirip dengan kuil piramida Chichen Itza yang ada di Meksiko milik suku Maya. Namun, Candi Sukuh diyakini usiannya jauh lebih tua dibandingkan dengan candi milik Suku Maya.

Terlihat dari jalan batu di tengah pelataran candi ini langka ditemui di candi-candi pada umumnya. Model jalan seperti itu hanya ada di “bangunan suci” prasejarah jaman Megalithic.

Tak heran dari segi bangunannya saja, candi ini berbeda dari bangunan candi yang ada di Indonesia. Belum lagi Candi Sukuh memiliki relief atau pahatan yang jauh dari kesan tradisi budaya lokal nusantara.

Uniknya, candi peninggalan jaman megalithikum ini satu-satunya candi di Indonesia yang menghadap ke barat atau ke arah kiblat.

Menurut seorang pemerhati gunung Lawu yang sangat mengerti tentang seluk beluk gunung Lawu, Joko Sunarto menyebutkan, menurut pakem tradisi, candi agama Hindu lainnya yang digunakan sebagai tempat persembahyangan, seharusnya candi Sukuh menghadap ke arah timur, yakni arah terbitnya matahari.

Nyatanya justru candi ini menghadap ke arah arah barat. Mengapa begitu? Pak Po menerangkan, sudah menjadi tradisi jawa kuno di waktu jaman prasejarah jika matahari menjadi merupakan sumber urip (sumber kehidupan)

Candi sukuh ini berbeda dengan candi kebanyakan yang menghadap ke timur. Justru candi ini menghadap Barat. Jadi untuk memasuki candi Sukuh, orang menuju ke arah Timur, tempat matahari terbit, terangnya saat ditemui koran ini di kediamannya di Ngargoyoso Karanganyar.

Menurut pria berambut panjang yang akrab di panggil Mbah Po ini menerangkan, salah jika menyebut candi Sukuh yang terletak di Dukuh Berjo, Desa Sukuh Kecamatan Ngargoyoso Kabupaten Karanganyar ini sebagai candi porno.

Hanya karena banyaknya relief yang menggambarkan sesuatu yang pribadi seperti bentuk lingga yoni yang menggambarkan kelamin lelaki dan perempuan.

“Sebenarnya candi Sukuh bukan candi porno, tapi itu satu pembelajaran. Purwa madya wusana yakni asal muasal kita ada. Jika di India punya kamasutra, kalau di Jawa khan punya centhini,” ungkapnya.

Jadi candi sukuh adalah candi yang menonjolkan lingga dan yoni yakni penggambaran laki dan perempuan. Jadi di candi itu asal muasal manusia ada di gambarkan dalam relief yang ada di Candi sukuh.

“Jadi itu bukan candi tentang seni bercinta tapi penggambaran bahwa kita itu ada di alam kandungan, di alam dunia dan alam kubur,”terangnya.

Pak Po juga menyebutkan jika orang-orang jawa itu meyakini bahwa manusia Jawa pertama itu berasal atau datangnya dari Lawu. Karena kaki Lawu itu sampai daerah Sangiran Sragen Jawa Tengah. Sebab itulah di Sangiran banyak di temukan situs-situs, mulai dari fosil yang ditemukan, peninggalan yang ditemukan.

“Dari mulai adanya tanah Jawa, wong kapisan itu njedule di gunung Lawu. Makanya itu di sana juga ada candi yang menggambarkan bahwa kita itu ada, antara laki dan perempuan ketemu, di gambarkan oleh lingga dan yoni (bentuk alat kelamin pria dan wanita),” terangnya.

Dan itu di gambarkan dengan jelas melalui tiga teras atau tiga trap bagian candi. Yang tergabung dalam purwa madya wasana yang berarti asal muasal manusia ada. Bagian candi pada teras pertama adalah purwa yang berarti kawitan, pertama atau asal muasal dimana laki perempuan ketemu.

Teras kedua adalah madya yang menggambarkan alam dunia. Di situ banyak sekali terdapat relief yang menggambarkan kehidupan manusia seperti petani, pejabat, punggawa raja, pande besi. Dan di teras ketiga atau teras teratas candi adalah yang menggambarkan pada akhirnya manusia kembali pada yang membikin hidup.

“Itu sedikit gambaran tersembunyi di candi sukuh. Dibalik itu semua, masih ada misteri-misteri lainnya yang hingga kini masih tetap diyakini ada,” imbuhnya.

Ada keunikan lain di kompleks candi ini terdapat patung-patung makhluk bersayap. Makhluk ini disebut sebagai garuda karena salah satu patung yang masih utuh menunjukkan kepala seperti burung garuda. Hanya saja, patung-patung ini memiliki tangan dan kaki seperti manusia namun bersayap seperti malaikat.

Follow Berita Hariankota di Google News

Berita Terkait