Ketika Sunyi Nyepi Bertemu Gema Takbir di Lereng Gunung Lawu

Di balik keindahan alamnya, lereng Lawu menyimpan kisah tentang harmoni dan toleransi yang telah terjalin selama berabad-abad

29 Maret 2025, 18:00 WIB

KARANGANYAR, HARIANKOTA.COM – Kabut tipis menyelimuti lereng Gunung Lawu, aroma dupa menyatu dengan udara dingin, menciptakan suasana sakral di sekitar Candi Cetho.

Di balik keindahan alamnya, lereng Lawu menyimpan kisah tentang harmoni dan toleransi yang telah terjalin selama berabad-abad.

Di kawasan ini, umat Hindu hidup berdampingan dengan umat Islam dan Kristen. Pura-pura megah seperti Amertha Shanti, Sedaleman, dan Lingga Buana berdiri kokoh, menjadi pusat peribadatan bagi umat Hindu.

Sementara itu, masjid dan gereja juga hadir, melengkapi keragaman spiritual di lereng Lawu.

Joko (55), seorang pengunjung dari Solo, takjub dengan kerukunan yang ia saksikan.

“Toleransinya sangat tinggi. Perbedaan keyakinan tidak menghalangi mereka untuk hidup rukun,” ujarnya.

Ia bercerita tentang dusun Jlono di Kemuning, tempat di mana separuh warganya beragama Hindu, keturunan pengikut setia Prabu Brawijaya V yang melarikan diri dari Majapahit.

Di dusun ini, tradisi toleransi diwariskan dari generasi ke generasi. Ketika Nyepi tiba, suasana sunyi menyelimuti desa.

Umat Islam dan Kristen turut mematikan lampu dan menjaga ketenangan, menghormati umat Hindu yang sedang beribadah.

Begitu pula saat umat Islam menjalankan ibadah sholat. Adzan tetap berkumandang, namun tanpa pengeras suara, menjaga harmoni antarumat beragama.

Editor:Alifian

Berita Lainnya

Berita Terkini