Bali Jadi Tuan Rumah World Water Forum ke-10 Bali 2024

20 Januari 2023, 17:15 WIB

Foto: Biro Humas KLHK

JAKARTA, HARIANKOTA.COMBali jadi tuan National Stakeholders Forum (NFS) ketiga sebagai rangkaian acara persiapan menjelang World Water Forum ke-10 di Bali, pada 18-24 Mei 2024 mendatang.

Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (Menteri LHK), Siti Nurbaya, sampaikan pertemuan NFS ke-3 ini bertujuan untuk mensosialisasikan capaian dan tujuan World Water Forum ke-10, serta memobilisasi komitmen pemangku kepentingan dalam mensukseskan forum tersebut

“Forum NFS ketiga itu dihadiri oleh organisasi internasional, kedutaan besar negara lain di Indonesia, LSM, publik, serta media internasional,”
ujar Menteri LHK dalam keterangan resmi dilansir dari InfoPublik, Jumat (20/1).

Dua pertemuan NFS sebelumnya telah dilaksanakan untuk pemangku kepentingan nasional dari unsur pemerintah, perguruan tinggi, lembaga swadaya masyarakat, kelompok masyarakat, dunia usaha, akademisi, dan lain sebagainya.

Menteri LHK mengatakan, World Water Forum merupakan forum internasional yang sangat penting karena kehidupan makhluk hidup sangat bergantung pada keberadaan dan ketersediaan air.

“Biasanya pemukiman manusia selalu berusaha dekat dengan mata air, sungai, danau atau daerah yang air tanahnya mudah dijangkau. Hal ini menunjukkan bahwa sumber daya udara yang cukup baik dari segi kuantitas maupun kualitas memegang peranan penting dalam pembangunan sosial dan ekonomi suatu wilayah,” jelas Menteri Siti.

Menurut Menteri Siti, agenda politik global seperti Megatrend 2045 menempatkan udara pada posisi strategis dalam kerangka Pangan, Energi, dan Air (FEW), termasuk dalam kaitannya dengan bencana dan kesejahteraan.

Penyediaan air bersih dan sehat tidak hanya terkait dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan nomor enam, yaitu air bersih dan sanitasi, tetapi juga terkait dengan poin nomor ke-17.

“Hal ini menjadi modalitas penting dalam perumusan kerangka kebijakan udara yang menekankan bahwa penyediaan dan pengelolaan udara tidak semata-mata masalah teknis, tetapi terkait dengan prinsip hidrologi, biaya ekonomi, dan kelayakan,” jelas dia.

Pendekatan lanskap yang diterapkan dalam mengembangkan kebijakan pengelolaan sumber daya alam, termasuk udara, dinilai sejalan dengan arahan Presiden Joko Widodo, yakni pembangunan infrastruktur harus berjalan seiring dengan perbaikan dan pemulihan lingkungan.

“Implementasi Tata Kelola berbasis lanskap atau bentang alam dalam pengelolaan sumber daya air sangat penting, karena pendekatan ini mengutamakan keseimbangan antara pelestarian lingkungan, ekonomi pembangunan dan kesejahteraan manusia, melalui integrasi kebijakan yang kuat dan komprehensif serta penegakan hukum,” kata Menteri Siti.

Lebih lanjut Menteri LHK mengatakan, dinamika diskusi dan negosiasi dalam berbagai pertemuan internasional terkait air, tekanan perlunya pendekatan lanskap dalam tata kelola air, yang dalam praktiknya menggunakan dua kerangka tata kelola utama, yaitu solusi berbasis alam, dan pendekatan berbasis ekosistem.

Pendekatan lanskap dalam pengelolaan air sangat dibutuhkan karena dikontrol secara ketat oleh aturan kartometrik, sehingga mampu mengidentifikasi elemen masyarakat sebagai subjek tata kelola dan merepresentasikan hubungan manusia-lanskap.

“Dengan demikian, format tata kelola yang digagas benar-benar mencerminkan keharmonisan multi-kepentingan dan multi-atribut lanskap, yang tentunya sangat spesifik di setiap wilayah,” kata dia,

Menteri Siti menyatakan agar dalam perjalanan menuju World Water Forum ke-10 tahun depan, perlu disiapkan berbagai event baik nasional maupun internasional yang mendorong peningkatan kualitas kebijakan nasional dalam pengelolaan sumber daya alam dan sumber daya air hingga skala tapak.

Dengan demikian diharapkan akan terbangun konsep kerja terkait sumber daya udara yang efektif, serta prinsip-prinsip tata kelola yang dapat dipahami dan diterapkan oleh aparatur pemerintah daerah dan aparatur di lapangan.

World Water Forum 2024 harus menjadi momentum untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat kita, sebagai perwujudan air untuk kemakmuran bersama dan pertumbuhan bersama,” pungkas Menteri Siti.

Berita Terkait