KARANGANYAR, HARIANKOTA.COM – Memasuki usia ke-9, The Lawu Group semakin memantapkan langkah sebagai pelaku utama industri wisata dan kuliner berbasis alam di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Momentum milad ini menjadi titik refleksi sekaligus penguatan visi besar bertajuk “Growing Together”, yakni tumbuh bersama karyawan, masyarakat, UMKM, hingga pemerintah daerah.
Berawal dari unit usaha kuliner Sate Lawu yang berdiri pada 1 Januari 2017, The Lawu Group kini menjelma menjadi ekosistem bisnis terintegrasi. Hingga awal 2026, perusahaan ini telah mengelola 23 lokasi usaha dengan 34 brand produk, tersebar di sejumlah daerah strategis seperti Semarang, Magelang, Pacitan, Probolinggo, hingga kawasan wisata unggulan Tawangmangu
Direktur The Lawu Group, Parmin Sastro Wijono, mengungkapkan bahwa pengembangan sektor pariwisata masih menjadi fokus utama perusahaan. Salah satu proyek strategis yang tengah dipersiapkan adalah destinasi wisata baru di kawasan Bromo, Jawa Timur, yang ditargetkan mulai beroperasi pada Februari 2026.
“Kami terus melihat potensi wisata alam Indonesia yang luar biasa. Ekspansi di kawasan Bromo menjadi bagian dari komitmen kami menghadirkan destinasi wisata berkelanjutan yang memberi dampak ekonomi langsung bagi masyarakat sekitar,” ujar Parmin saat perayaan Milad 9 Tahun The Lawu Group di Graha Sunan Lawu, The Lawu Park, Tawangmangu, Jumat (9/1/2026) malam.
Tak hanya mengandalkan sektor wisata, The Lawu Group juga melakukan diversifikasi bisnis besar-besaran. Saat ini, perusahaan tengah menjalani proses akuisisi Lembaga Keuangan Syariah, sekaligus memperkuat lini agrobisnis, pertanian, dan peternakan sebagai fondasi ekonomi jangka panjang.
Langkah ini diyakini mampu menciptakan ketahanan bisnis sekaligus membuka lapangan kerja baru di daerah.
Terkait evaluasi libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025/2026, Parmin mengakui adanya penurunan tingkat kunjungan wisatawan hingga 30 persen. Faktor ekonomi makro, cuaca ekstrem, serta daya beli masyarakat menjadi tantangan yang dihadapi industri pariwisata secara nasional.
“Ke depan, kami tidak sekadar menjual panorama alam. Kami memperkuat experience wisata, menggabungkan seni, budaya lokal, dan aktivitas interaktif agar wisatawan mendapatkan pengalaman yang berkesan dan ingin kembali,” jelasnya.
Dengan menjaga kelestarian alam seperti gunung, hutan, dan air terjun, serta melibatkan masyarakat lokal dalam pengelolaan destinasi, The Lawu Group optimistis sektor pariwisata akan tetap menjadi motor penggerak ekonomi daerah pada 2026.
Konsep wisata berkelanjutan dan kolaboratif ini sejalan dengan visi “Growing Together”, menjadikan pertumbuhan bisnis tidak hanya berorientasi pada profit, tetapi juga dampak sosial dan lingkungan.
Sementara itu Wakil Bupati Karanganyar Adhe Eliana dalam sambutannya sampaikan ketekunan dan konsistensi dinilai menjadi kunci utama keberhasilan pengembangan sektor pariwisata di Kabupaten Karanganyar.
Prinsip tersebut tercermin dalam perjalanan The Lawu Grup yang kini menjelma menjadi salah satu ikon wisata unggulan daerah.
“Semangat bersungguh-sungguh akan selalu membuahkan hasil. Seperti pepatah Man Jadda Wajadda, ketekunan dan kerja bersama mampu menjadikan The Lawu Grup sebagai kebanggaan Karanganyar,” ujar Adhe.
Ia menambahkan, geliat pariwisata Karanganyar terus menunjukkan tren positif. Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari sektor ini tercatat meningkat signifikan hingga puluhan miliar rupiah, seiring meningkatnya kunjungan wisatawan dari berbagai daerah.
“Karanganyar kini semakin dikenal sebagai daerah tujuan wisata. Ini hasil kerja kolektif dalam membangun wajah pariwisata yang lebih menarik dan kompetitif,” lanjutnya.
Selain pariwisata, dukungan terhadap UMKM dan pergerakan ekonomi lokal juga menjadi perhatian. Pembangunan infrastruktur, khususnya perbaikan jalan, disebut turut memperkuat akses menuju destinasi wisata.
“Mari terus kita dukung pertumbuhan ekonomi dan UMKM. Pembangunan jalan juga terus dikebut, dan manfaatnya sudah mulai dirasakan masyarakat,” pungkasnya.


Silakan Masuk atau Daftar untuk mengirim komentar.