Solo Pernah Jadi Basis maritim dan Perdagangan Yang Hebat, Ini Kisahnya

19 Februari 2024, 00:00 WIB

SOLO, HARIANKOTA.COM – Aliran Bengawan Solo menjadi bagian terpenting dalam kehidupan masyarakat dan menyimpan sejarah maritim pada masa lalu.

Sebelum terjadi sedimentasi (pendangkalan) berat, Bengawan Solo merupakan jalur pembuka perdagangan dari barat ke timur melalui kapal-kapal besar.

Bengawan Solo pada masa kerajaan Majapahit dan Mataram, menjadi jalur yang cukup sibuk melayani kapal-kapal besar. Kapal-kapal besar dari Majapahit banyak memuat aneka komoditas untuk didistribusikan melalui sungai-sungai besar lainnya di wilayah Solo pada zaman dulu.

Bahkan beberapa daerah di Solo juga sempat dibangun bandar atau pelabuhan untuk mendistribusikan berbagai komoditas dari Majapahit, Jawa Timur.

Dilansir dari laman pemkotsolo, pada era Paku Buwono II, Keraton Surakarta Hadiningrat mengalami kejayaan ekonomi, karena menguasai akses jalur transportasi yang sangat vital yaitu mengangkut berbagai komoditas dari berbagai wilayah kerajaan di Nusantara.

Kapal-kapal dagang dari Kerajaan Mojopahit membawa hasil bumi, garam, ikan dan kain untuk diturunkan di sungai-sungai yang banyak terdapat di Solo pada waktu itu. Kapal-kapal besar itu mengarungi Bengawan Solo. Untuk sampai di wilayah pedalaman Solo, perahu-perahu mengangkutnya sebagai sarana transportasi membawa berbagai komoditas.

VOC Belanda sendiri juga memiliki kepentingan terhadap jalur-jalur sungai untuk kepentingan dagang mereka. Untuk itu, jalur-jalur sungai yang melintasi Solo dijamin keamanannya oleh VOC.

Karena banyaknya jalur-jalur sungai, maka sempat dibangun bandar besar atau pelabuhan Beton. Kampung Beton sendiri saat ini masih ada dan berada di wilayah Kelurahan Sewu, Kecamatan Jebres, Solo.

Di dermaga Beton, yang masuk lintasan Bengawan Solo, berlabuh kapal-kapal bertonase besar dan banyak pedagang-pedagang dari etnis Arab dan China terlibat perdagangan dengan pribumi. Dari Bandar Beton, kapal-kapal hilir mudik menuju Sragen dan Jawa Timur.

Sungai-sungai penghubung yang ada di Solo, juga menjadi jalur perahu-perahu hingga ke Kali Jenes, Laweyan. Perahu-perahu tersebut membawa komoditas kain, kapas, benang dan kain tenun, karena di Laweyan menjadi sentra industri batik kala itu. Kali Jenes menjadi saksi bisu perdagangan batik di Laweyan dan kali tersebut menjadi jalur vital transportasi perahu-perahu kecil.

Sungai lain yang sangat vital sebagai jalur transportasi dan perdagangan adalah Kali Pepe. Kali Pepe yang membelah Kota Solo, pada zaman dulu merupakan jalur penting yang menjadi penghubung Bandar Beton, Semanggi dan Pasar Gede.

Sementara kali-kali kecil yang tidak digunakan sebagai jalur transportasi air, juga banyak terdapat di Solo. Kali-kali tersebut difungsikan sebagai pengendali banjir di Solo, seperti Kali Larangan (yang sudah ditutup), Kali Anyar dan Kali Gajah Putih. Kali Larangan dahulu dikenal memiliki air yang sangat jernih, maka sangat diandalkan untuk kebutuhan keraton.

Menarik ya menyimak sejarah Kota Solo, yang ternyata menjadi kota penuh aliran sungai dan kali. Aliran tersebut menjadi bukti kejayaan

Follow Berita Hariankota di Google News

Berita Terkait