Kisah Pahlawan nasional dari Lereng Lawu, Bikin Pasukan Kompeni Kocar-kacir

Foto: Salah satu sumber air konon tempat memandikan pasukan pangeran Sambernyawa sebelum berperang/dok pemkab Karanganyar.

22 Agustus 2022, 21:52 WIB

Hariankota.com – Kisah perjuangan Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara I atau lebih dikenal dengan sebutan Pangeran Sambernyawa dan memiliki nama kecil Raden Mas Said sudah tidak diragukan lagi. Berperang melawan ketidakadilan dan membela tanah airnya dari penjajahan Belanda (Kompeni)

Dan pada tahun Pada 1983, Pemerintah Indonesia menganugrahkan gelar Pahlawan Nasional kepada Mangkunegara I karena karena jasa-jasa kepahlawanannya. Dengan mendapat penghargaan Bintang Mahaputra.

Raden Mas Said, terlahir di Kraton Kartasura, 7 April 1725, putera dari Pangeran Mangkunegara Kendang (putra sulung Amangkurat IV) dan R. Ay. Wulan, puteri Pangeran Blitar. Sedangkan kakeknya adalah Sinuwun Amangkurat IV.

Nama R.M Sahid sendiri merupakan pemberian dari neneknya sebelum wafat, yang artinya bahwa Sri Sunan masih bisa ‘menangi’ (melihat)kelahiran cucunya sebelum wafat.

Sejak usia ramaja RM Said adalah sosok yang tangguh, kuat dapasukannya.bakat berperang. Sebab itulah ketika usianya menginjak 15 tahun sudah diangkat menjadi mantri oleh PB II dan diberi anugrah gelar Pangeran Suryokusumo.
Saat terjadi pemberontakan kaum pedagang Cina di Kraton Kartosura yang lebih dikenal dengan ‘geger pecinan’ Raden Mas Said berhasil menumpasnya.

Perjuangannya melawan penjajah Kompeni dan juga kerajaan yang pro kepada Kompeni selama hampir 16 tahun lamanya dengan pertempuran sebanyak 250 kali. Dengan jumlah pasukan yang terbatas dan peralatan perang yang sederhana dan minim, seperti keris, tombak dan pistol hasil rampasan tentara Kompeni.

Diantaranya bertempur melawan VOC dengan komandan Kapten Van der Pol dan Kapten Beiman di sebelah selatan Rembang, di hutan Sitakepyak. Raden Mas Said berhasil menebas kepala kapten Van der Pol dengan tangan kirinya. Kemudian penyerbuan ke benteng Vredeburg Belanda dan keraton Yogya-Mataram karena Raden Mas Said marah VOC membakar dan menjarah harta benda penduduk desa.

Dalam berperang Raden Mas Said menggunakan motto yang menjadi semangat bertempur pasukannya yakni ‘tiji tibeh’ (mati siji mati kabeh, mukti siji mukti kabeh) yang artinya gugur satu gugur semua, sejahtera satu sejahtera semua.

Belanda sangat mengakui kehebatan Raden Mas Said, baik kesaktian, maupun strategi perangnya. Sampai akhirnya VOC menyebutnya Pangeran Sambernyawa karena musuhnya termasuk Kompeni sendiri menganggapnya sebagai penyebar maut.

Salah satu lokasi yang dijadikan lokasi benteng pertahanan Pangeran Sambernyawa adalah wilayah Sapta Tirta Pablengan. Meski bentengnya hancur, namun Sapta Tirta Pablengan tidak terusik. Bahkan tentara VOC mengaku kalah dengan taktik perang gerilya Pangeran Sambernyawa dan pasukannya

Berita Terkait