Umat Muslim yang telah hafal waktu sholat pun bergegas ke masjid tanpa menunggu adzan yang lantang.
“Adzan tetap dikumandangkan, tapi pelan, tanpa pengeras suara. Jadi hanya terdengar di dalam masjid, tidak mengganggu umat Hindu yang sedang beribadah,” jelas Joko.
Kerukunan ini bukan sekadar slogan, tetapi praktik nyata dalam kehidupan sehari-hari. Gotong royong dan saling menghormati menjadi perekat yang menyatukan masyarakat lereng Lawu.
Mereka membuktikan bahwa perbedaan keyakinan bukanlah penghalang untuk hidup berdampingan secara damai.
Di lereng Lawu, dupa dan adzan bersanding damai, menciptakan simfoni harmoni yang menggetarkan hati. Sebuah potret indah tentang Indonesia yang kaya akan keragaman dan toleransi.***
Halaman
Editor | : | Alifian |
---|