Jejak Laskar Putri Indonesia Surakarta, Pejuang Wanita Yang Berani Menyusup di Front Tempur

18 Februari 2024, 22:40 WIB

SOLO, HARIANKOTA.COM – Tugu besar dan kokoh itu seolah tampak berdiri sendiri, di tengah hiruk pikuk aktivitas yang ada di Jalan Mayor Sunaryo, Kedung Lumbu, Solo.

Ya, tugu besar itu adalah monumen peringatan yang sangat penting bagi Kota Solo. Ratusan nama tertulis di prasasti yang tertempel di sebuah tugu. Tertulis pada tugu itu ‘Prasasti Laskar Putri Indonesia Surakarta’.

Prasasti itu diresmikan pada 1 Maret 1989 oleh Prof. DR. Haryati Soebadio, Menteri Sosial kala itu adalah monumen untuk mengenang perjuangan Laskar Putri Indonesia.

Dilansir dari laman pemkotsolo, Laskar Putri Indonesia Surakarta merupakan pejuang perempuan yang sebagian besar anggotanya adalah pelajar di Kota Solo. Mereka terbentuk pada 11 Oktober 1945 karena dorongan patriotisme dan nasionalisme untuk mempertahankan kemerdekaan.

Peran perempuan Solo memang sangat luar biasa. Berkat keberaniannya, mereka berjuang untuk kemerdekaan bangsa, termasuk harus berjuang di medan tempur dengan segala risiko yang dihadapinya.

Usia mereka masih sangat muda untuk berperang melawan Belanda. Rata-rata usia mereka sekitar 16 tahun ke atas dan sudah mengangkat senjata untuk mempertahankan cita-cita luhur yaitu kemerdekaan.

Di usia belia itu, dimana pada waktu itu masih banyak yang mengenyam bangku sekolah, namun sebagian dari mereka ada yang terpanggil dan ingin mengabdikan dirinya menjadi pejuang dan berkontribusi untuk negara.

Tangan para perempuan pelajar itu mungkin tak sekuat tangan prajurit pria. Namun semua anggota Laskar Putri Indonesia malah sangat mahir menembak, berperang, bongkar pasang senjata dan mengatur strategi layaknya prajurit pria. Mereka dilatih seperti latihan militer di asrama.

Kerasnya latihan militer dengan segala keterbatasan persenjataan, harus dilalui oleh semua anggota Laskar Putri. Bangsa Indonesia, khususnya Kota Solo patut berbangga karena pernah memiliki pasukan hebat yang digawangi para remaja putri yang gagah berani di medan tempur.

Kondisi pertempuran yang berat dan mengerikan harus dihadapi oleh Laskar Putri. Persenjataan Belanda yang lengkap memang tak sebanding dengan senjata yang ditenteng oleh para prajurit putri belia itu. Saat Belanda pernah menyerbu pasukan mereka, hujan tembakan dari senjata otomatis milik pasukan Belanda menembus truk yang membawa Laskar Putri. Banyak dari mereka yang terluka.

Semangat juang mereka memang sungguh luar biasa hebat. Mereka berkontribusi sangat besar dalam mempertahankan Kota Solo yang ingin dikuasai Belanda saat itu.

Mereka terbagi dalam beberapa kompi dan seksi. Selain ada kompi tempur, juga ada kompi yang membantu dapur umum di luar kota. Sebagian dari mereka ditugaskan untuk membawa nasi lauk untuk diberikan ke pejuang-pejuang TKR (Tentara Keamanan Rakyat).

Perjuangan mereka juga tak kalah berbahaya saat bertugas sebagai penyusup di garis depan untuk menyusupkan senjata dan granat di dalam kain sarung untuk pejuang-pejuang di garis depan. Sebagai perempuan, mereka menyamar sedemikian rupa agar tak diketahui Belanda sembari membawa senjata dan granat yang disembunyikan.

Bisa kebayang, aksi heroik mereka seperti agen-agen intelijen yang sering dilihat di film-film saat ini. Mereka melakukan penyamaran agar senjata, peluru, granat dan asupan makanan bisa sampai ke pejuang-pejuang di garis depan. Teknik-teknik penyamaran merupakan teknik intelijen. Luar biasa hebat para anggota Laskar Putri Indonesia ini.

Mereka juga mendapatkan tugas dari TKR untuk melakukan penyisiran bagi pendatang baru ke Solo baik yang lewat bus atau kereta api. Tugas itu untuk mencari para penyusup yang bekerja untuk kepentingan Belanda.

Para pahlawan hebat itu, selama bergabung di Laskar Putri Indonesia, tinggal di asrama yang bermarkas di Kompleks Balai Prajurit Batangan (Kedunglumbu) Solo. Area medan tempurnya tak hanya di dalam Kota Solo, namun hingga kawasan Boyolali, Salatiga, Mranggen, Demak, Semarang serta Yogyakarta.

Follow Berita Hariankota di Google News

Berita Terkait